Monday, October 30, 2017

Sustainable Fashion at JFW 2018

Kolaborasi Kedutaan Swedia di Jakarta dengan Swedish Fashion Council di Jakarta Fashion Week 2018 minggu lalu menarik banget karena mengangkat tema 'Sustainable Fashion'. Kalau menurut Wikipedia, sustainable fashion atau eco fashion adalah sebuah bagian dari filosofi design yang membuat sistem untuk meminimalisir dampak buruk industri fashion terhadap pekerja dan lingkungan. Jadi bisa dibilang konsep ini bertolak belakang dengan fast fashion yang populer.




Kalau di Indonesia, misalkan kita punya baju yang enggak terpakai biasanya masih dikasih ke saudara, si mbak di rumah, atau ke orang yang membutuhkan yaa jadi aku sendiri jarang mendengar baju dibuang. Nah di Swedia ternyata sampah baju tuh banyak banget lho! Mereka rata-rata beli baju 15 kg per tahun dan yang dipakai cuma 4 kg, sisanya terbuang gitu aja. Udah gitu di Eropa juga banyak banget retail fast fashion, yang jual baju murah meriah dengan kualitas oke dan pergantian design-nya juga cepat banget.

Memang fast fashion itu menggiurkan banget, tapi kalau baca beritanya ternyata banyak brand fast fashion yang memperlakukan pekerjanya dengan kurang baik, juga menggunakan material baju atau pewarna yang susah untuk didaur ulang dan dicerna lingkungan. Aku enggak bilang kalau kita harus 100% into eco fashion, namun ada hal menarik yang aku dapat dari seminar Sustainable Fashion by Swedish Fashion Council supaya kita lebih peduli lingkungan dan tetap stylish:


Lease & Rent
Konsep pinjam meminjam baju di Swedia udah lumrah banget! Kalau di Indonesia sih aku juga udah mendengar yaa banyak rental baju tapi biasanya cuma baju-baju formal atau party gitu, kalau di Swedia daily clothes juga banyak dirental lho... Jadi paling kita cuma punya baju-baju basic aja, tapi untuk baju spesifik musim dingin atau summer kita bisa rent aja karena biasanya kepakai cuma sebentar, atau dibuat foto sekali dua kali udah bosan kan.

Subscription
Ada lagi konsep unik nih, langganan baju di Swedia biasanya dibikin paket bisa ber 3 bulan atau 6 bulan gitu. Misalkan kita punya anak balita, daripada beli bajunya mahal-mahal cuma kepakai sebentar ya lebih baik ikut langganan aja. Pakai bajunya 6 bulan, nanti kalau sudah habis masa berlangganan tinggal dikembaliin bajunya dan ambil package subscription dengan ukuran yang lebih besar. Super hemat! 

Fashion Library
Bayangin seperti meminjam buku di perpustakaan, bedanya perpustakaan fashion ini isinya baju semua! Sistem pinjemnya sama, kayak pakai kartu perpustakaan gitu dan udah ditentuin mau pinjem bajunya berapa lama. Kalau udah bosan tinggal pilih baju lain deh....

Double Labeling / Unisex Fashion
Contohnya aja brand Hope asal Swedia, mulai spring summer '18 ini mereka sudah mengeluarkan unisex pieces yang bisa dipakai both untuk perempuan dan laki-laki. Selain jadi bisa share baju, brand ini juga mendorong tren untuk berpakaian dengan tidak melihat batasan antara baju perempuan dan laki-laki.

HOPE Spring Summer '18

HOPE Spring Summer '18

Collaboration
Diperlukan adanya kolaborasi antara industri fashion dan masyarakat supaya konsep sustainable fashion ini bisa berjalan dengan baik. Contohnya aja di Swedia ada yang namanya Swedish Textile Water Initiative yang merupakan kolaborasi dari 30 brand untuk memperbaiki masalah air yang terjadi di working area para pekerja pabrik garmen.

Eco-friendly Materials
Ajaibnya banyak banget bahan alternatif selain cotton atau kulit binatang yang bisa digunakan untuk membuat baju. Contohnya leather sekarang ini bisa dibuat dari anggur dan kulit jeruk, atau viscose sebagai pengganti cotton. Materi eco-friendly ini tidak mengurangi kenyamanan baju lho!

House of Dagmar yang juga menggunakan material ramah lingkungan

Uniforms For The Dedicated, menggunakan material dari Tencel dan Biopolymer 

Uniforms For The Dedicated di JFW 2018

Di Indonesia juga beberapa designer sudah menerapkan konsep sustainable fashion, contohnya koleksi baru Kle di JFW 2018 kemarin yang baju-bajunya dibuat dari bio plastic hasil olahan cassava starch.



Semoga Indonesia bisa terus mengembangkan konsep sustainable fashion ini yaa, jadi selain good looking kita juga bisa menjaga bumi!

With Pauline (Swedish Fashion Council) - Michelle Tjokrosaputro (CEO PT Dan Liris) - Johanna Brismar Skoog (Kedubes Swedia)


With love,
Agnes Oryza





*this is a sponsored post in collaboration with Swedish Fashion Council

No comments:

Post a Comment